Thursday, 3 April 2014

KONTRIBUSI AHMADIYAH UNTUK PERDAMAIAN DUNIA

Khaeruddin Ahmad Jusmansyah

Beberapa waktu lalu tepatnya 11 Februari 2014, sekitar 500 perwakilan dari berbagai elemen telah berkumpul untuk menghadiri acara Konferensi Agama-Agama dunia, yang diadakan di Guildhall, [1] London, Konferensi ini diprakarsai oleh Jamaah Ahmadiyah. Salah satu yang menjadi sorotan utama para pembicara adalah apakah agama masih bisa menunjukkan perannya untuk dunia saat ini dan apakah agama masih menjadi sumber kebaikan. Suatu pertanyaan yang sederhana, tetapi menjadi penting ketika dihadapkan pada kondisi dunia saat ini yang penuh peperangan, pertikaian, dan kekacauan dimana-mana.

Agama disatu sisi memang solusi mujarab untuk menciptakan perdamaian, tetapi jubah agama yang diharapkan dapat menciptakan perdamaian kinipun telah berdarah-darah pula. Sebuah kompilasi komprehensif terbaru dari sejarah peperangan manusia , Encyclopedia of Wars oleh Charles Phillips dan Alan Axelrod telah mendokumentasikan 1763 peperangan, 123 diantaranya diklasifikasikan sebagai konflik agama. [2]

Suasana Peace Symposium ke 4 di Masjid Baitul Futuh London
yang diselenggarakan oleh Ahmadiyah.
Photo: Themuslimtimes.org

Jemaat Ahmadiyah di satu sisi, tampil sebagai organisasi Islam yang terus berusaha untuk menjawab dan membuktikan pertanyaan-pertanyaan diatas. Ahmadiyah yang merupakan korban penindasan itu sendiri kini telah menjadi pioner perdamaian di seluruh dunia - baik melalui sumbangan-sumbangan ideologi maupun sumbangan nyata - dengan menunjukkan bahwa agama adalah solusi untuk perdamaian dan sumber kebaikan untuk dunia.

1.    KONTRIBUSI PEMIKIRAN AHMADIYAH BAGI PERDAMAIAN DUNIA DAN KEHARMONISAN

Hendaknya dimaklumi, kontribusi ideologi damai oleh Ahmadiyah tidak lain adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri yang sarat perdamain dan kasih sayang. Revitalisasi ajaran damai ini menjadi penting ketika dihadapkan dengan ideologi terorisme dan ekstremisme yang merebak di dunia Islam saat ini yang justru bertentangan dengan ajaran damai Islam.

Di dalam data itu disebutkan oleh Encyclopedia of Wars diatas bahwa diantara 66 peperangan yang melibatkan agama, 66 diantaranya dilakukan oleh Islam, suatu fakta paradoksal dari ajaran Islam damai yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Ideologis Ahmadiyah untuk perdamaian dibawah ini sebagian besar dikutip dari buku-buku Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dan Khalifah beliau. Khususnya dari buku Khalifatul Masih IV rh, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Islam's Response To Contemporary Issues. [3]

A.    Tidak Ada Monopoli Kebenaran Agama

Salah satu sebab adanya pertentangan diantara agama-agama adalah adanya beberapa agama yang memonopoli klaim kebenaran dan wahyu, dengan mengesampingkan agama lain, atau dengan tidak menganggap bahwa Allah juga telah menurunkan bimbingan-Nya kepada semua orang di luar golongan agama mereka. Gagasan ini menimbulkan fanatisme dan ekstremisme. Di satu sisi Al-Qur’an menyatakan bahwa tidak saja Rasulullah saw, Allah juga telah mengutus nabi-nabi untuk setiap umat. ( Q.S 16:36; Q.S 40 : 78 dan Q.S 35 : 243– 24). Dalam menafsirkan ayat-ayat ini Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh. mengatakan:

“Memperhatikan hal di atas, jelas bahwa Islam tidak memonopoli kebenaran dan menafikan agama-agama lainnya, bahkan secara runtut menyatakan bahwa di setiap zaman dan di seluruh bagian dunia, Tuhan telah memperhatikan kebutuhan spiritual dan keagamaan manusia dengan cara membangkitkan Rasul-rasul yang menyampaikan kabar samawi kepada umat kepada siapa mereka diutus dan ditugaskan. [4]

Lebih lanjut beliau menjelaskan:

“Sikap yang ditunjukkan oleh Islam terhadap agama-agama dan para pendirinya bisa menjadi faktor yang amat penting dalam mempersatukan dan mempererat hubungan di antara berbagai agama. [5] Pandangan tersebut merubah sikap permusuhan terhadap ajaran Nabi-nabi agama lain menjadi sikap saling menghormati.

B.    Tidak ada Monopoli atas Keselamatan

Penyebab lain dari fanatisme agama adalah klaim keselamatan, bahwa hanya melalui agamanyalah seseorang akan diselamatkan, pemeluk agama-agama selain agama mereka akan terkutuk selamanya. Hal sederhana ini memiliki potensi berbahaya bagi kedamaian dunia, terlebih jika pandangan kaku, sempit dan tanpa toleransi ini dikemukakan dalam bahasa yang provokatif maka akah timbul banyak pertikaian dan kerusuhan.

Sebaliknya Alquran mengatakan:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi, dan orang-orang Sabi, dan orang-orang Nasrani - barangsiapa diantara mereka benar-benar beriman pada Allah dan Hari Kemudian dan beramal saleh, maka tak akan ada ketakutan menimpa mereka tentang yang akan datang dan tidak pula mereka berdukacita tentang yang sudah-sudah. (S.5 Al-Maidah: 70)
Mengomentari ayat ini Hadhrat Mirza Tahir Ahmad mengatakan:

“Kata Sabi digunakan oleh orang Arab untuk menggambarkan umat lain yang jelas non-Arab dan non-Yahudi yang memiliki kitab wahyu tersendiri. Dengan demikian semua pengikut agama-agama yang didasarkan pada wahyu samawi sama memperoleh kepastian bahwa sepanjang mereka tidak memusuhi suatu agama baru dan mereka menjalankan agamanya sendiri dengan sepenuh hati, mereka tidak perlu khawatir akan kemurkaan Tuhan dan mereka tetap berhak atas syafaat. [6]

C.    Simpati Kepada Seluruh Manusia Tanpa Memandang Warna Kulit atau Keyakinan Agama.

Sebagai Almasih di zaman ini, misi dari pendiri gerakan Ahmadiyah dalam Islam adalah untuk menyatukan dan melayani umat manusia. Dalam buku Paigham Sulh  [7] sehari sebelum kewafatannya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis:

“Allah memulai Al-Qur’an dengan Surah Al-Fatihah berikut: Alhamdilillahi robbil ‘alamiin, yaitu segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kata ‘alamiin berarti seluruh alam, hal itu meliputi semua orang yang berbeda, semua tingkat umur dan semua perbedaan suku bangsa. Dimulainya Al-Qur'an dengan ayat ini dirancang untuk melawan pandangan orang-orang yang berusaha memonopoli takdir Tuhan yang tak terbatas hanya bagi bangsa meraka sendiri dengan mengesampingkan orang lain, seolah-olah dalam penciptaan mereka Tuhan telah mencampakkan mereka sebagai ciptaan yang tidak berharga, atau mungkin mereka disisihkan untuk dilupakan oleh-Nya, atau (naudzubillah) mereka tidak diciptakan oleh-Nya."  [8]

Beliau lebih lanjut mengatakan:

"Rekan sebangsaku! Sebuah agama, yang tidak menanamkan kasih sayang universal ia sama sekali bukanlah agama. Demikian pula manusia yang tidak memiliki sifat kasih sayang maka ia sama sekali bukanlah manusia. Tuhan kami tidak pernah membedakan antara satu sama lainnya. Hal ini digambarkan oleh fakta bahwa semua potensi yang diberikan kepada Arya, juga diberikan pada ras yang menghuni Arabia, Persia, Suriah, Cina, Jepang, Eropa dan Amerika. Bumi yang diciptakan oleh Allah untuk menyediakan persediaan umum bagi seluruh manusia. Matahari, bulan dan bintang-bintang-Nya merupakan sumber cahaya untuk semua orang, mereka juga memiliki banyak manfaat lainnya. Demikian juga, semua orang mengambil manfaat dari unsur-unsur ciptaan-Nya seperti air, api, tanah dan produk sejenis lainnya seperti biji-bijian, buah-buahan dan sarana-sarana penyembuhan dll. Semua ciptaan Allah ini memberikan kita suatu pelajaran bahwa kita juga harus bersikap murah hati dan ramah terhadap sesama manusia dan tidak bakhil dan kikir." [9]

Beliau mengumumkan:

"Saya menyatakan kepada seluruh umat Islam, Kristen, HIndu dan Arya bahwa saya tidak memiliki musuh di dunia ini. Saya mencintai manusia dengan penuh kasih seperti kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya, bahkan lebih dari itu. Musuh saya hanyalah doktrin palsu yang membunuh kebenaran. Simpati kepada manusia adalah tugas saya. Pendirian saya adalah untuk membuang kedustaan. Saya menolak paganisme, kelakuan buruk, ketidakadilan dan tindakan amoral."  [10]

Beliau juga menasehatkan:

"Prinsip yang harus kita pegang adalah bahwa kita harus memiliki kebaikan hati untuk seluruh umat manusia. Jika ada yang melihat rumah seorang tetangga Hindu terbakar dan tidak datang membantu untuk memadamkan api, saya benar-benar mengatakan bahwa ia bukanlah umatku. Jika ada pengikut saya, setelah melihat seseorang yang mencoba untuk membunuh seorang Kristen tetapi tidak berusaha untuk menyelamatkannya, saya benar-benar mengatakan bahwa ia bukanlah umatku.  [11]

D.    Kebebasan Beragama

Tidak akan ada perdamaian di dunia tanpa adanya kebebasan beragama kepada setiap orang. Banyak penafsiran jihad saat ini yang bertentangan dengan konsep kebebasan beragama. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad memperbaiki pemahaman ini, beliau menulis:

"Prinsip kedua yang telah saya tegakkan adalah klarifikasi doktrin jihad yang telah disalah-artikan oleh sebagian muslim yang tuna ilmu. Saya telah diberi pemahaman oleh Allah Taala bahwa praktek-praktek saat ini yang dianggap sebagai jihad sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an. [12]

Beliau lebih lanjut mengatakan:

"Tak satupun dari Muslim sejati yang pernah hidup menyatakan bahwa kekuatan harus digunakan untuk penyebaran Islam. Di sisi lain, Islam selalu berkembang dari kualitas keunggulannya yang inheren. Orang-orang Islam yang memiliki pandangan berbeda, yang percaya bahwa Islam harus disebarkan dengan kekuatan, tampaknya tidak memiliki kesadaran akan keindahan yang inheren dalam Islam."  [13]

Menjelaskan poin ini Beliau mengatakan: "Jika bentuk-bentuk paksaan telah digunakan dalam mengajak orang ke dalam Islam dan para Sahabat Nabi Muhammad saw adalah buah dari paksaan tersebut, maka mustahillah bagi mereka yang tetap menunjukkan pada saat cobaan, sifat-sifat keteguhan dan ketulusan yang hanya bisa ditampilkan oleh mukmin sejati. [14]

E.    Islam Menolak Segala Bentuk Terorisme

Dalam mengutuk terorisme dalam segala bentuk, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad mengatakan:
“Sejauh menyangkut Islam, ia tegas menolak dan mengutuk segala bentuk terorisme. Ia tidak memberikan perlindungan atau pembenaran atas tindakan kekerasan, baik itu dilakukan oleh individu, kelompok maupun pemerintah ... Saya sangat mengutuk semua tindakan dan bentuk terorisme, karena ini adalah keyakinan saya paling dalam bahwa tidak saja Islam tetapi juga agama benar manapun, apapun namanya, yang mendukung kekerasan dan pertumpahan darah kepada orang yang tidak bersalah, wanita dan anak-anak atas nama Tuhan. "  [15]

Tentunya dunia kita akan menjadi tempat yang lebih aman untuk ditinggali, jika semua umat beragama, baik Muslim atau non-Muslim, secara tegas dan tulus mengutuk kekerasan dan terorisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.

F.    Kerjasama Antar-Agama Dalam pelayanan Kepada Umat Manusia dan pememberatasan Kejahatan Sosial.

Mengomentari ayat ayat—ayat Al-Qur’an (Q.S. 5: 2 ; Q.S. 60: 7 - 8 ; Q.S. 3: 64), Hadhrat Mirza Tahir Ahmad mengatakan:

”Umat Muslim pun diajarkan untuk mengundang para Ahli Kitab dan bekerjasama dengan mereka dalam penyebaran ajaran keesaan Tuhan yang merupakan keyakinan bersama mereka. Inti ajaran dari ayat di bawah ini adalah penekanan pada kebersamaan dan pengembangan program bersama bagi kemaslahatan manusia dan bukan untuk mempertegas bidang-bidang perbedaan yang hanya akan membawa perselisihan. [16]

Beliau mengingatkan keluarga dan para pemimpin sosial dan agama dalam tanggung jawab mereka untuk membantu penguasa dalam menanggapi dekadensi moral yang berkembang dari masyarakat internasional, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad mengatakan:

"...Tapi apa yang saya coba tekankan hanyalah fakta bahwa menurut Islam, kekuatan negara saja tidak cukup untuk menekan, mencegah atau meminimalisir kejahatan. Sekali saja kecenderungan kriminal dibiarkan untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan rumah tangga dan masyarakat pada umumnya, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh negara adalah menghilangkan gejalanya dari waktu ke waktu. Akar penyebab kejahatan terlalu jauh untuk dijangkau tangan hukum. Ini adalah pekerjaan utama dari keluarga, tokoh agama dan tokok publik di setiap masyarakat untuk memberantas kejahatan.  [17]

2.    TINDAKAN NYATA AHMADIYAH UNTUK PERDAMAIAN DUNIA

Tentunya untuk mewujudkan perdamaian dunia tidak hanya terbatas pada upaya teoritis dan doktrinal semata, perlu upaya nyata dalam mewujudkannya. Ahmadiyah telah mewujudkan hal itu dalam berbagai cara. Dalam bab ini saya akan berfokus pada sosok Khalifah Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, upaya-upaya besar yang dilakukan selama kekhalifahan beliau kami kira sudah cukup mewakili tindakan nyata Ahmadiyah untuk perdamaian dunia.

Berikut saya kutipkan dari situs resmi Ahmadiyah internasioal, alislam.org tentang Inisatif perdamaian yang dilakukan beliau dan Jemaat Ahmadiyah.

”Melalui khutbah-khutbah, kuliah, buku dan pertemuan-pertemuan pribadi beliau terus menerus mengajurkan pada peningkatan ibadah kepada Allah taala dan pelayanan kemanusiaan. Beliau juga terus melakukan advokasi penegakan hak asasi manusia universal, masyarakat yang adil dan pemisahan antara agama dan negara.

Sejak terpilih menjadi khalifah, Mirza Masroor Ahmad telah memimpin kampanye di seluruh dunia untuk menyampaikan pesan damai Islam melalui media cetak ataupun digital. Dibawah kepemimpinannya cabang nasional Jamaah Muslim Ahmadiyah telah meluncurkan kampanye yang mencerminkan ajaran Islam yang benar dan damai. Ahmadi muslim di seluruh dunia terlibat dalam upaya akar rumput untuk mendistribusikan jutaan selebaran perdamaian untuk Islam dan non muslim, menjadi tuan rumah simposium antar agama dan perdamaian dan mengadakan berbagai Al-Qur’an untuk menyajikan pesan Al-Qur’an yang benar dan mulia. Kampanye ini telah mendapat liputan media di seluruh dunia dan menunjukkan bahwa Islam adalah pioner perdamaian, setia terhadap negara dimana tinggal dan pelayanan kemanusiaan.[18]

Pada tahun 2004, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad meluncurkan Simposium Perdamaian Nasional (National Peace Symposium) tahunan dimana tamu dari semua lapisan masyarakat datang berkumpul untuk bertukar ide pada pengembangan perdamaian dan kerukunan. Setiap tahun simposium menarik banyak para menteri, anggota parlemen, politisi, pemimpin agama dan pejabat lainnya. Pada tahun 2009 Huzur juga meluncurkan  'Ahmadiyya Muslim Prize for the Advancement of Peace" (Penghargaan Ahmadiyah untuk kemajuan perdamaian). Penghargaan perdamaian internasional untuk individu atau organisasi yang telah menunjukkan komitmen luar biasa dan pelayanan untuk penciptaan perdamaian dan kemanusiaan.

Beberapa Pidato perdamaian Beliau yang bersejarah diantaranya:

•    27 Juni 2012, Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato perdamaian “Jalan menuju perdamaian - Hubungan antar bangsa-bangsa” di Capitol Hill, washington DC.  Acara ini dihadiri lebih dari 30 anggota kongres amerika, Korps Diplomatik, Gedung Putih dan staff Depatemen Luar negeri, para profesor, para tokoh LSM, tokoh agama, perwakilan media, perwakilan Negara dan berbagai lapisan masyarakat. Yang istimewanya beliau dibuatkan Resolusi Khusus untuk menyambut beliau, dimana tertulis di Resolusi tersebut : "Menyambut Yang Mulia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pemimpin spriritual dan administratif Jamaah Muslim Ahmadiyah seluruh dunia ke Washington DC dan mengakui komitmennya untuk perdamaian dunia, keadilan, anti kekerasan, HAM, kebebasan beragama dan demokrasi."  [19]

•    Setahun kemudian 11 May 2013, beliau kembali ke Amerika dalam lawatannya keAmerika dan Kanada. Beliau menyampai pidato “Islamic Solution for World Peace” di  Montage, Beverly Hills, LA. Dihadiri lebih dari 300 politisi, akademisi dan para pemimpin komunitas, termasuk Letnan Gubernur California, kandidat wali kota Eric Garcetti, dan beberapa anggota Kongres Amerika Serikat.  [20]

•    11 Juni 2013 Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato di Houses of parliament di London, di Westminster. dihadiri oleh 68 pejabat, termasuk 30 anggota parlemen dan 12 anggota House of lords, termasuk 6 menteri kabinet dan 2 menteri. Berbagai media termasuk BBC, Sky TV dan ITV juga hadir meliput acara tersebut.  [21]

•    4 desember 2012, Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato utama yang bersejarah di Parlemen Eropa, Brussel, kepada lebih dari 350 tamu yang mewakili 30 negara. Dalam pidato 35 menitnya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan tentang seruannya kepada Uni Eropa untuk mempertahankan persatuannya, membahas permasalahan imigrasi yang meningkat ke negara-negara Barat, menganjurkan kesetaraan dalam hubungan internasional dan berbicara panjang lebar tentang ajaran utama Islam dalam kaitan dengan perkembangan perdamaian dunia.  [22]

Dalam kesempatan khutbah jum’at Mirza Masroor Ahmad memberikan rincian hasil dari kunjungan beliau berbagai negara untuk menyebarkan perdamaian melalui pidato-pidato dan nasehat-nasehat beliau kepada semua lapisan masyarakat, mulai dari para petinggi pemerintahan sampai rakyat biasa.

“Ketika saya mengadakan lawatan ke Amerika pada tahun yang lalu, secara keseluruhan sebanyak 12 juta orang telah menerima pesan-pesan ajaran Islam. Di waktu lawatan ke dua kota di Canada 8.5 juta penduduk telah menerima pesan-pesan ajaran Islam. Jadi di dalam kedua Negara ini ada 20.5 juta manusia telah menerima amanat ajaran Islam melalui cara itu. Dari segi ini juga tidak terhitung banyaknya karunia Allah swt turun kepada kita sehingga terbuka jalan-jalan baru untuk menyampaikan amanat Ahmadiyyah kepada penduduk dunia. Di dalam lawatan saya selalu terbuka jalan untuk menyampaikan amanat ini, setelah itu lebih luas lagi ditingkatkan oleh para Muballighin yang mempunyai semangat dan kecintaan tinggi untuk bertabligh. Dan dengan karunia Allah Ta’ala usaha-usaha merekapun diberkati dengan sukses yang sangat gemilang. Begitu juga di waktu lawatan ke Jerman saya mendapat taufiq untuk meletakkan batu fondasi pertama dua buah Mesjid dan menghadiri Jalsa Salana (Pertemuan Tahunan Ahmadiyah) juga di sana. Di sana semua upacara diliput oleh Radio, TV dan juga oleh beberapa buah Surat Kabar Lokal. Bukan terbatas hanya media Jerman saja melainkan saluran TV Austria, Swizerland yang berdekatan dengan perbatasan Negara Jerman bersama-sama meliput semua kegiatan selama lawatan saya di Jerman, hingga secara keseluruhan amanat Ahmadiyah telah sampai kepada 4 juta orang. Kemudian lawatan ke Singapura, Australia, New Zealand dan Jepang. Selama lawatan ke Negara-negera itu sejumlah media meliput perjalanan saya dengan luas sekali. Dan sebagaimana telah saya katakan sebelumnya bahwa amanat Islam oleh Ahmadiyah telah sampai kepada 30 juta orang di sana ... Melalui Radio dan TV sepanjang lawatan-lawatan saya telah disampaikan amanat Islam Ahmadiyah kepada 182 juta enam ratus ribu orang di atas dunia. Begitu juga di dalam tahun 2013 melalui 1.088 buah Surat Kabar telah disampaikan amanat Islam Ahmadiyah kepada lebih dari 160 juta orang.  [23]

Tidak saja itu, Mirza Masroor Ahmad telah mengirim Pesan Perdamaian kepada pemimpin-pemimpin dunia, dalam upaya mengajak mereka untuk menciptakan perdamaian dunia, karena melalui merekalah, selaku pemimpin bisa mengendalikan dan mengarahkan kepada langkah perdamaian. Beliau telah berkirim surat kepada Paus Benediktus XVI, Perdana Menteri Israel, Presiden Republik Islam Iran, Presiden Amerika Serikat, Perdana Menteri Kanada, Penjaga Dua Tempat Suci Raja Kerajaan Arab Saudi, Perdana Menteri Dewan Negara Republik Rakyat Cina, Perdana Menteri Inggris Raya, Kanselir Jerman, Presiden Republik Perancis, Ratu Inggris Raya dan Negara Persemakmuran, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.

Kepada Paus Benediktus XVI, Mirza Masroor Ahmad menulis:

“Karena Anda memiliki suara yang sangat berpengaruh di dunia, saya mendorong Anda juga untuk menyebarkan secara luas kepada dunia bahwa dengan menempatkan hambatan di jalan keseimbangan alam yang ditetapkan Tuhan, maka mereka akan dengan cepat menuju kepada kehancuran. Pesan ini perlu untuk disampaikan lebih lanjut dan lebih luas dari sebelumnya dan dengan upaya yang lebih besar. Semua agama-agama di dunia membutuhkan kerukunan dalam beragama dan semua orang di dunia memembutuhkan terciptanya semangat cinta, kasih sayang dan persaudaraan. Dan doa saya adalah semoga kita semua memahami tanggung jawab kita dan memainkan peranan kita dalam menegakkan kedamaian dan cinta, dan untuk pengakuan Pencipta kita di dunia.  [24]

Dalam suratnya kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Mirza Masroor Ahmad menulis:

“Oleh karena itu, permintaan saya kepada Anda adalah bukan menghantarkan dunia ke dalam cengkeraman dunia, buatlah upaya maksimal untuk menyelamatkan dunia dari bencana global, daripada menyelesaikan sengketa dengan kekuatan, Anda harus mencoba menyelesaikannya melalui dialog, sehingga kita dapat memberi ‘hadiah’ kepada generasi masa depan kita dengan masa depan yang cerah daripada memberi ‘hadiah’ mereka dengan ketidak-berdayaan serta kecacatan.  [25]

Kepada Presiden Barack Obama, Mirza Masroor Ahmad Menulis:

“Permintaan saya kepada Anda – yang pada dasarnya untuk semua pemimpin dunia, bahwa daripada menggunakan kekerasan untuk menekan negara lain, gunakanlah dialog dan kebijaksanaan. Negara-negara besar di dunia seperti Amerika Serikat harus memainkan peran mereka menuju pembentukan perdamaian. Mereka tidak boleh menjadikan tindakan negara-negara kecil sebagai alasan untuk menggangu keharmonisan dunia. Saat ini senjata nuklir tidak hanya dimiliki oleh Amerika Serikat dan negara besar lainnya, melainkan negara-negara kecil sekalipun sekarang memiliki senjata pemusnah massal tersebut, dimana mereka yang berkuasa sering terlampau gegabah dengan bertindak dengan tanpa pemikiran dan pertimbangan. Dengan demikian permintaan saya dengan rendah hati kepada Anda untuk berusaha secara maksimal untuk mencegah negara-negara besar dan kecil dari meletusnya Perang Dunia Ketiga. Seharusnya tidak ada keraguan di dalam pikiran kita bahwa jika kita gagal dalam tugas ini maka akibat dari perang semacam itu tidak akan terbatas hanya pada negara-negara miskin Asia, Eropa dan Amerika, melainkan generasi masa depan kita yang harus menanggung konsekuensi mengerikan dari tindakan kita. [26]

Kepada Perdana Menteri Inggris, David Cameron, Mirza Masroor Ahmad menulis:

“Oleh karena itu adalah keinginan yang bersemangat dan doa saya bahwa Anda dan para pemimpin dari semua negara-negara besar dapat memahami kenyataan mengerikan ini, dan tidak menjalankan kebijakan agresif dan memanfaatkan untuk memaksakan demi mencapai tujuan Anda, tetapi anda harus berusaha untuk mengadopsi kebijakan yang mempromosikan dan mengamankan keadilan. 
Itulah beberapa kontribusi nyata oleh Ahmadiyah, masih banyak lagi tindakan nyata akar rumput yang menyebarkan pesan perdamaian secara massal di berbagai negara, baik berupa penyebaran brosur-brosur, seminar-seminar, pameran-pameran, iklan bilboard dll, yang tidak mungkin kami rinci mengingat keterbatasan tempat. [27]

Langkah Ahmadiyah memang unik, organisasi Islam yang menjadi objek penindasan, penganiayaan, pembunuhan dan diskriminasi kini menjadi pioner dalam mewujudkan perdamaian dunia, bukannya menjadi organisasi pendendam. Seorang Pendeta Kristen Rev. Chuck Currie menulis di Huttingtonpost.com:

“Kita semua tahu kejadian tentang komunitas suatu agama atau etnis yang diusir dari tanah air mereka dan bagaimana banyak dari komunitas tersebut berusaha dari waktu ke waktu untuk untuk mengambil langkah balas dendam. Tidak akan ada yang unik tentang Jamaah Muslim Ahmadiyah jika setelah meninggalkan Pakistan menuju markas baru di Inggris, gerakan mereka kemudian berubah menjadi gerakan kekerasan. Sebaliknya, mereka telah menggunakan pengalaman dan kisah-kisah mereka untuk menarik perhatian pada penderitaan manusia dan menyebarkan pesan perdamaian dan rekonsiliasi yang konsisten dengan pendirian mereka. Pencarian mereka untuk keadilan tidak hanya untuk umat Islam tetapi untuk setiap orang beriman – dan orang-orang yang tidak beragama, termasuk ateis. Dalam hal ini, Seorang Pendeta Kristen seperti saya menemukan banyak hal untuk mengagumi.”  [28]

Dalam kunjungan Gusdur ke Israel ketika diundang menyaksikan perjanjian damai antara Israel dan Yordania, Gusdur menyempatkan bertemu dengan sejumlah warga Israel baik dari kalangan orang-orang Yahudi maupun dari kalangan orang-orang Arab Muslim dan Kristen, diantaranya mereka mengatakan kepada Gusdur: “Hanya mereka yang berada dalam keadaan perang yang bisa merasakan apa makna kata damai”. [29] Itulah mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan langkah yang diambil Ahmadiyah untuk perdamaian; pengalaman ditindas, dianiaya dan di-diskriminasi telah membuat Ahmadiyah berjuang untuk menegakkan perdamaian, disamping itu memang sebuah nilai yang harus diperjuangkan sesuai dengan amanat Islam yang damai.

Dengan mengulang perkataan Hadhrat Mirza Tahir Ahmad bahwa akar penyebab kejahatan terlalu jauh untuk dijangkau oleh campur tangan penguasa, termasuk para pemimpin agama tokoh masyarakat. Maka menjadi pekerjaan utama dari keluarga dan diri kita sendiri untuk meminimalisir kejahatan di masyarakat. Mutu dan sikap tiap individu dari suatu masyarakat memiliki peran utama dalam penciptaan masyarakat yang damai dan teratur. Kualitas bangunan yang hendak dibuat oleh agama akan bergantung kepada kualitas material pembentuknya yaitu kualitas para umat beragama. Sehingga perlu kita untuk meningkatkan sikap berlomba dalam kebaikan, untuk membangun masyarakat yang lebih baik, meningkatkan kasih sayang di lingkungan keluarga, menumbuhkan empati dan sikap tolong menolong, menanamkan berbuat baik untuk semata-mata ikhlas karena Allah bukan karena sombong ataupun pamer, dan terakhir meningkatkan kecintaan kepada Allah taala, karena kedamaian sejati tidak akan dapat terbentuk tanpa kecintaan kepada Tuhan, hal itu akan menimbulkan mutu respek kita kepada ciptaan-Nya.

Footnote:


[3] Bab ini sebagian sebagian besar adalah terjemahan dari artikel Promised Messiah’s(as) Ideological Contribution to World Peace and Harmony (http://www.reviewofreligions.org/download/RR200305.pdf)
[4] Islam ’s Response toContemporary Issues
[5] ibid
[6] ibid
[7] Paigham Sulh merupakan buku terakhir yang ditulis oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad  yang dimaksudkan sebagai bahan pidato di Lahore, yang berisi tentang rekonsiliasi antara Muslim dan Hindu di India, beliau menginginkan kedua kaum ini dapat hidup rukun, damai dan makmur serta saling menghormati. Tetapi pidato ini belum selesai karena beliau wafat pada tanggal 26 Mei 1908, tetapi tulisan ini tetap dibacakan pada konferensi yang diadakan tanggal 21 Juni 1908 di Punjab University Hall, Lahore. (Introduction The Books of The Promissed Messiah oleh Naseem Mahdi)
[8] A Message of Peace, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, p.9
[9] ibid hal.7-8
[10] Arbain pt.1, p 344
[11] Sirajum-Munir p 28
[12] Tohfa Qaisariyya
[13] Tiryaquul- Qulub catatan kaki, hal 167
[14] Masih Hindustan Mein pp.11-12
[15] Penumpahan Darah atas Nama Agama, Mirza Tahir Ahmad
[16] Islam ’s Response to Contemporary Issues by Hadhrat Mirza Tahir Ahmad
[17] ibid
[23] Khutbah Huzur, tanggal 3 Januari 2014
[24] Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Mirza Masroor Ahmad, hal. 49
[25] Ibid, hal xv
[26] Ibid, hal 166
[27] Ibid, hal 190


Friday, 28 June 2013

RASULULLAH saw dan EMANSIPASI WANITA

Rasulullah saw Pembebas Kaum Wanita

Oleh: Hadhrat Mirza Bashir-ud-Din Mahmood Ahmad ra

Rasulullah saw
Berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad Saw. sangatlah sempurna, sehingga siapapun yang memilih untuk menulis mengenai hal tersebut akan tercengang dan sangatlah sulit untuk memilih topik ini. Dengan mempertimbangkan kebutuhan masa kini, bagaimanapun, saya berharap dapat mengangkat sisi kehidupan Nabi Muhammad Saw., mengenai cara beliau membebaskan dunia dari perbudakan yang terang-terangan, yang menjadi kutukan bagi kemanusiaan.  Saya maksudkan disini adalah, perbudakan terhadap wanita.

Sebelum kedatangan Nabi Muhammad Saw., seluruh wanita di seluruh bagian dunia berada dalam posisi sebagai budak dan dianggap sebagai barang yang bisa dimiliki, dan perbudakan terhadap mereka menjadi bumerang bahkan terhadap laki-laki, dalam hal anak laki-laki dari seorang budak perempuan tidak memiliki spirit kebebasan yang sama.

Tidak ada keraguan, wanita, baik karena kecantikannya ataupun karakternya yang berkilau, mampu, dalam kasus2 perorangan, mendominasi laki-laki, namun kebebasan yang diperoleh tersebut tidak dapat diartikan sebagai kebebasan sebenarnya, untuk alasan sederhana bahwa wanita tidak memiliki hak terhadap kebebasan.  Ini hanya merupakan pengecualian dari aturan yang berlaku umum, dan kebebasan yang sesungguhnya luarbiasa, sulit untuk dapat menjadi budaya dari aspirasi yang sesungguhnya.

Rasulullah Saw., datang sekitar 1.350 tahun lalu (ketika tulisan ini dibuat. terj).  Sebelum itu, tidak ada agama ataupun negara yang memberikan kebebasan kepada wanita sebagai sebuah hak.  Tentu saja, di negara2 dimana tidak ada hukum yang berlaku, wanita bebas dari segala ketidakberdayaan.  Namun, tetap saja kebebasan semacam inipun tidak dapat dikatakan sebagai kebebasan sejati.  Lebih dapat diartikan sebagai ijin.  Kebebasan sejati adalah yang muncul dari peradaban dan sesuai dengan hukum.  Kebebasan yang kita dapatkan pada saat kita melanggar hukum bukanlah kebebasan sama sekali, karena kebebasan semacam ini tidak menghasilkan kekuatan karakter.

II


Pada masa Rasulullah Saw., dan sebelumnya, wanita ditempatkan pada kondisi dimana dia bukan pemilik dari harta yang ia miliki, suaminya dianggap sebagai pemilik harta istrinya.  Wanita tidak memiliki bagian dari harta ayahnya.  Dia juga tidak dapat mewarisi harta dari suaminya, walaupun dalam beberapa kasus, dia dapat mengelola harta tersebut selama suaminya masih hidup.  Pada saat telah menikah, seorang wanita dianggap sebagai harta suaminya, tidak dimungkinkan untuk berpisah darinya, atau sebagai alternatif, suaminya memiliki hak untuk menceraikannya namun wanita tidak diberi hak untuk memisahkan diri dari suaminya, bagaimanapun sulitnya masalah yang ia hadapi.

Apabila suaminya meninggalkannya, mengabaikan kewajibannya terhadapnya, ataupun melarikan diri dari istrinya, tidak ada hukum yang melindungi wanita.  Menjadi kewajiban bagi wanita untuk menerima konsekuensinya, bekerja untuk menghidupi diri dan anak-anaknya.  Sang suami, memiliki hak, ini diluar masalah tempramen yang tinggi, untuk memukul istrinya, dan istrinya bahkan tidak boleh meninggikan suara untuk melawan hal tersebut.  Apabila suami meninggal, istri, di beberapa negara, diberikan kepada kerabat suami, yang dapat menikahinya, atau kepada siapapun yang mereka inginkan, baik sebagai sumbangan ataupun balas jasa dari keuntungan yang diterima.  Di beberapa tempat, dilain pihak, wanita lebih dianggap sebagai properti suaminya.  Beberapa suami akan menjual istrinya apabila mereka kalah berjudi, dan pada saat mereka melakukan itu, mereka menganggap hal tersebut adalah merupakan hak suami.

Seorang wanita tidak memiliki hak terhadap anak-nya baik dalam posisinya sebagai seorang istri, ataupun dalam posisi dia tidak tergantung pada suaminya.  Dalam urusan rumah tangga ia tidak memiliki hak istimewa.  Bahkan dalam agama dia tidak memiliki status.  Dalam ikatan sipiritual-pun wanita tidak memiliki bagian.  Sebagai konsekuensinya, para suami terbiasa menghamburkan harta istri-istri mereka dan meninggalkan mereka tanpa memberikan sedikitpun untuk keperluan istrinya.  Si Istri, tidak dapat, walaupun itu harta mereka sendiri, memberikan sebagai sumbangan atau untuk menolong kerabatnya, tanpa persetujuan suaminya, dan suami yang serakah tidak akan memberikan ijin untuk hal tersebut.

Mengenai harta milik orangtua seorang wanita, dimana ada ikatan kasih sayang yang dalam, wanitapun tidak memiliki bagian.  Dan anak-anak perempuan memiliki hak yang sama atas orangtuanya sebagaimana anak laki-laki.  Orangtua yang memiliki rasa keadilan, selama hidupnya akan memberikan sebagian hartanya kepada anak-anak perempuan mereka, dan menyisakan hanya untuk nafkah keluarga mereka.  Hal ini tidak berlaku untuk anak laki-laki, karena setelah kematian orangtua, mereka akan mewarisi seluruh harta (dan karenanya seharusnya tidak boleh berkeberatan apabila saudara perempuan mereka menerima pemberian dari orangtua mereka); yang menjadi pertimbangan mereka  adalah, saudara perempuan mereka pada saat itu memiliki lebih banyak dari mereka.
Mengenai harta suaminya, dimana seorang istri memiliki hubungan yang total, wanita juga tidak memiliki hak.  Kerabat jauh dari suami dapat meminta bagian, namun tidak seorang istri. Seorang istri, sebenarnya, adalah orang yang menjaga harga diri suami, seorang pasangan hidup, yang pengabdian dan kasih sayangnya tentunya sangat berkontribusi terhadap pendapatan seorang suami.  Disisi lain, disaat seorang istri mengelola harta suaminya, dia tidak memiliki hak dan bagian sedikitpun dari harta tersebut.  Bila seorang istri dapat membelanjakan pendapatan dari harta tersebut, ia tetap tidak boleh mengatur bagiannya.  Dalam hal untuk sedekah, karenanya, ia tidak diperbolehkan untuk menentukan sesuai keinginannya.

Apabila suami berlaku kejam terhadap istrinya, ia tidak dapat berpisah dari suaminya.  Pada masyarakat dimana perpisahan dimungkinkan, adalah pada kondisi dimana wanita yang menghargai diri sendiri memilih kematian sebagai cara perpisahan. Sebagai contoh, sebuah perpisahan harus memberikan bukti kesalahan dari salah satu pihak, termasuk juga bukti perlakuan buruk dari suami.  Lebih buruk lagi, pada kasus-kasus demikian, dimana pihak istri sudah tidak mungkin lagi hidup dengan suaminya, ia tetap tidak dapat berpisah dari suaminya, namun ia hanya diijinkan untuk tinggal terpisah, yang merupakan salah satu bentuk penyiksaan juga, karena dengan demikian ia dipaksa untuk menjalani kehidupan yang kosong dan tidak memiliki tujuan.

Pada beberapa kasus terjadi dimana suami dapat menceraikan istrinya kapanpun ia suka, sementara seorang istri tidak dimungkinkan untuk meminta cerai.  Apabila seorang suami meninggalkan istri, atau meninggalkan negaranya tanpa memberi tunjangan, istri wajib untuk tetap menjalani kehidupan tanpa hak untuk mengabdikan dirinya pada negara atau masyarakat.  Kehidupan perkawinan, alih-alih memberikan suatu kebahagian, malah menjadi kehidupan yang penuh penderitaan untuk seorang istri.  Kewajiban istri tidak hanya melaksanakan kewajiban suami dan dirinya namun ia juga wajib untuk menunggu suaminya.  Kewajiban suami, sebutlah untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, belum lagi kewajibannya sendiri untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya.  Beban mental disatu sisi, dan kewajiban menyediakan materi di sisi lain.

Semuanya ini, singkat kata, ditoleransi dalam kasus yang melibatkan mahluk malang dan tidak dilindungi ini.  Wanita dipukuli, dan dianggap sebagai properti suami.  Ketika suami meninggal, jandanya dipaksa untuk menikah dengan kerabat suaminya atau dijual untuk mendapatkan uang.  Kenyataanya, para suami sendiri juga menjual istrinya. Pangeran bangsa India seperti Panawas kehilangan istri mereka di meja judi dan untuk melawan hukum kepemilikan tanah, seorang Puteri terhormat seperti Drupadi, tidak dapat sedikitpun bersuara.

Dalam hal pendidikan anak-anak, para ibu tidak diajak diskusi dan mereka tidak memiliki hak terhadap anak-anak mereka.  Apabila ayah dan ibu berpisah, anak-anak diserahkan kepada ayah.  Wanita tidak memiliki hak apapun terhadap rumah tangga.  Kapanpun suami menghendaki, ia dapat melempar istrinya dari rumah dan hingga mesti terlunta-lunta tanpa tempat berteduh.

III

Kedatangan Rasulullah Saw. menghapuskan seluruh kebiadaban ini dengan satu sapuan.  Beliau menyatakan bahwa Tuhan telah mempercayakan kepadanya tugas untuk menjaga hak-hak wanita.

Beliau menyatakan dengan nama Allah bahwa sebagai manusia pria dan wanita adalah sama, dan pada saat mereka hidup bersama, sebagaimana laki-laki memiliki hak-hak tertentu terhadap wanita, demikian pula sebaliknya, wanita memiliki hak-hak tertentu terhadap laki-laki. Wanita dapat memiliki hak terhadap hartanya sebagaimana laki-laki.  Seorang suami tidak memiliki hak untuk menggunakan harta istrinya, selama si istri, dengan kehendaknya sendiri, tidak memberi ijin.  Untuk mengambil paksa hak miliknya ataupun dimana wanita malu untuk menunjukkan penolakannya, adalah salah.  Apapun yang diberikan oleh suami dengan ikhlas, akan menjadi hak istri dan suami tidak boleh mengambilnya lagi.  Ia juga berhak mewarisi harta orangtuanya sebagaimana saudara lelakinya.  Namun dengan menimbang bahwa kewajiban menanggung keluarga adalah pada laki-laki, dan wanita dianggap hanya perlu menanggung dirinya sendiri, maka bagiannya adalah separuh dari bagian laki-laki, dari seluruh harta orang tua mereka yang meninggal.

Sama halnya, seorang ibu juga berhak mewarisi harta dari anak laki-lakinya yang meninggal sebagaimana juga ayah anak laki-laki tersebut.  Namun mengingat situasi yang berbeda2 dan tanggungjawab yang ia emban dalam kasus-kasus tertentu, bagiannya bisa sama bisa juga kurang dari bagian ayahnya.  Apabila suaminya meninggal istri berhak mendapat warisan, baik ia memiliki atau tidak memiliki anak, karena ia dianggap tidak tergantung dengan hal lainnya.

Pernikahannya (sudah dianggap lazim) adalah, tanpa ragu lagi, merupakan ikatan suci, dimana, setelah suami istri menikmati keintiman yang paling dalam, sehingga perpisahan suami istri adalah suatu hal yang sangat dibenci.  Namun bagaimanapun, separah apapun perbedaan diantara duabelah pihak, dalam masalah agama, fisik, ekonomi, sosial ataupun mental, mereka haruslah memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan keutuhan perkawinan mereka, dan tidak boleh  menghancurkan hidup mereka dan menghancurkan tujuan keberadaan mereka.

Apabila perbedaan ini muncul, dan suami dan istri sepakat bahwa mereka tidak dapat hidup bersama, mereka (telah diajarkan) dapat – dengan persetujuan bersama – mengakhiri kebersamaan.  Namun apabila hanya suami yang memiliki pandangan ini dan istri tidak, dan mereka gagal untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain, urusan ini haruslah di bantu oleh dua orang hakam, yang satu mewakili suami dan yang satu mewakili istri.  Apabila hakam ini memutuskan bahwa kedua belah pihak harus berupaya untuk tetap hidup bersama, maka sebaiknya masing-masing pihak berusaha menyelesaikan masalah sesuai dengan rekomendasi hakam.  Apabila kesepakatan tidak dapat dicapai, suami dapat menceraikan istri, namun dalam kasus ini, ia tidak memiliki hak untuk mengambil kembali apapun yang telah ia (sebelum bercerai) berikan kepada istrinya, termasuk seluruh mas kawin (mahar).

Apabila di lain pihak istri yang menginginkan perpisahan dan bukan sang suami, istri harus mengajukan permohonan kepada hakim, dan apabila hakim telah yakin bahwa tidak ada motif buruk dari permohonan tersebut maka hakim dapat memutuskan perpisahan. Hanya pada kasus tertentu saja istri harus mengembalikan kepada suaminya, harta yang telah diberikan kepadanya, termasuk mahar/mas kawin.  Apabila suami gagal untuk memenuhi kewajibannya dalam perkawinan, atau tidak mau berbicara lagi dengan istrinya atau ia meminta istrinya untuk pisah ranjang, ia tidak boleh melebihi batas waktu tertentu.  Dalam waktu empat bulan setelah perlakuan tersebut ia harus menyatakan apakah akan mempertahankan perkawinannya atau menceraikan istrinya.

Apabila suami menghentikan nafkah kepada istrinya atau meninggalkannya, atau tidak lagi mengurus istrinya, maka perkawinan tersebut dapat dibatalkan. (Tiga tahun telah ditetapkan sebagai batas meninggalkan istri oleh para hakim muslim). Istri kemudian bebas untuk menikah lagi.

Suami harus bertanggungjawab terhadap pemeliharaan istri dan anak-anaknya.  Ia hanya boleh menerapkan disiplin yang sewajarnya, namun apabila untuk mendisiplinkan ini harus memberikan hukuman, ia harus memiliki saksi yang cukup dan mengungkapkan kesalahan istrinya dan mendasarkan penilaiannya pada bukti-bukti.  Hukuman tersebut tidak boleh meninggalkan cacat yang menetap.

Seorang suami tidak “memiliki” istrinya sebagai properti. Ia tidak boleh menjualnya, atau memaksanya dalam pekerjaan rumah tangga.  Istri berbagi segala hal dalam rumah tangga, dan perlakuan suami terhadap istri akan menunjukkan posisi dimana ia berada.  Sebuah perlakuan yang lebih rendah daripada yang seharusnya dilakukan oleh seorang laki-laki dengan status suami adalah tidak benar.

Pada saat suaminya meninggal, keluarganya tidak memiliki hak terhadap istri.  Istri boleh bebas dan apabila ada kesempatan maka ia memiliki hak untuk menikah lagi. Tidak seorangpun boleh menghalanginya.  Seorang janda juga tidak harus ditempatkan ditempat tertentu.  Ia boleh tinggal di rumah suaminya selama empat bulan sepuluh hari sampai semua hak istri dan hak keluarganya telah selesai diurus.

Setahun setelah kematian suaminya seorang janda, apapun yang terjadi padanya, adalah berhak untuk menggunakan rumah suaminya, sehingga ia dapat menggunakan apa yang tertinggal untuk kebutuhannya dan ia memiliki tempat tinggal.

Apabila suami cekcok dengan istrinya maka suami yang harus meninggalkan rumah, dan tidak boleh meminta istrinya untuk keluar, karena rumah menjadi hak istri.  Dalam hal pengurusan anak-anak, wanita memiliki hak dan kewajibannya.  Ia harus dilibatkan.


Dalam persoalan anak-anaknya, wanita tidak boleh diabaikan dalam hal apapun.  Perihal menyusui, pengasuhan adalah tergantung pada pendapatnya.  Apabila suami dan istri merasa tidak mungkin lagi untuk hidup bersama, dan menginginkan untuk berpisah, maka pengasuhan anak yang masih kecil harus diserahkan kepada sang ibu.  Pada saat anak-anak dewasa, untuk tujuan pendidikan, anak boleh kembali kepada ayahnya.  Selama anak-anak tinggal dengan ibunya, maka pemeliharaan harus disediakan oleh ayah. Ayah juga harus membayar waktu dan upaya yang dikeluarkan si ibu dalam mengurus anak-anaknya.

Singkatnya, wanita memiliki status independen.  Pahala spiritual juga terbuka untuknya. Ia juga dapat mencapai kemuliaan tertinggi dalam kehidupan akhirat, dan dalam kehidupan dunia ia dapat berperan serta dalam berbagai urusan kemasyarakatan.  Dalam hal ini ia memiliki hak untuk diperlakukan sama dengan laki-laki.

IV

Inilah ajaran dari Rasulullah Saw. yang disebarkan pada saat standar perlakuan di seluruh dunia adalah kebalikannya.  Melalui perintahnya, beliau membebaskan wanita dari perbudakan yang telah menjadi satu dengan kehidupan mereka selama ribuan tahun, dimana mereka dipaksa menerimanya di berbagai belahan dunia, belum lagi tekanan dari berbagai agama terhadap wanita.  Seorang laki-laki dalam satu masa, menghapus seluruh rantai perbudakan ini! Membawa kebebasan bagi para ibu, dan beliau pada saat yang sama membebaskan anak-anak dari sentimen perbudakan dan menyemaikan dan memupuk ambisi dan harga diri yang tinggi.

Namun demikian, dunia tidak menghargai nilai ajaran tersebut.  Apa yang dianggap sebagai keuntungan diberi label sebagai tirani. Perceraian dan perpisahan dianggap sebagai masalah, warisan dianggap menghancurkan keluarga, independensi seorang wanita dianggap sebagai penghancuran kehidupan rumah tangga.  Selama seribu tiga ratus tahun, hal tersebut terus dipraktikkan secara membabi buta, padahal apa yang disampaikan Rasulullah adalah untuk kebaikan umat manusia.  Berlanjut dengan hujatan terhadap ajarannya yang menyatakan bahwa ajaran tersebut bertentangan dengan fitrah manusia.  Lalu tiba satu masa dimana kalimat Tuhan (yang disampaikan melalui rasulnya) kemudian menjadi nyata.  Orang-orang yang menganggap dirinya beradab, mulai mematuhi ajaran Rasulullah.  Semua orang, kemudian mulai mengubah aturan mereka untuk menyesuaikan dengan ajaran Rasulullah.

Undang-undang di Inggris, yang mempersyaratkan adanya perlakuan buruk dan sewenang-wenang, dan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada salah satu pihak sebagai syarat perceraian, diubah pada tahun 1923.  Perlakuan buruk sudah cukup memenuhi syarat perceraian pada undang-undang  yang baru.

Selandia Baru memutuskan, pada tahun 1912, bahwa bila seorang istri tidak waras selama tujuh tahun, perkawinannya dapat dibatalkan.  Pada tahun 1925, lebih lanjut diatur bahwa apabila suami atau istri tidak dapat memenuhi kewajiban perkawinan mereka, maka mereka boleh bercerai atau berpisah.  Apabila dalam waktu tiga tahun suami istri tidak memperdulikan satu sama lain, maka cerai dijatuhkan.  Suatu peniruan yang bagus terhadap hukum Islam, tentunya, namun baru dibuat setelah 1.300 tahun penyerangan terhadap ajaran Islam.

Di Negara bagian Australia, Queensland, ketidakwarasan selama lima tahun, dianggap cukup sebagai alasan untuk bercerai.  Di Tasmania, sebuah undang-undang yang diberlakukan pada tahun 1919, yang mengatakan bahwa perlakuan buruk, meninggalkan selama empat tahun, kebiasaan mabuk, dan pengacuhan selama tiga tahun, masuk penjara, pemukulan, ketidak warasan, harus, baik salah satu maupun seluruhnya cukup menjadi alasan untuk bercerai.  Di Victoria, undang-undang yang diberlakukan tahun 1923 menyatakan bahwa apabila seorang suami tidak mengurus istrinya selama tiga tahun, atau berlaku buruk, atau tidak memberi nafkah, menganiaya istrinya, maka perceraian dimungkinkan.  Selanjutnya diatur bahwa apabila masuk penjara, pemukulan, perilaku buruk dari pihak istri, ketidakwarasan, perlakuan sewenang-wenang dan percekcokan terus menerus cukup menjadi alasan untuk perceraian atau perpisahan.

Di bagian barat Australia, selain undang-undang yang mengatur hal tersebut diatas, pernikahan seorang wanita yang dalam keadaan mengandung juga dinyatakan tidak sah atau batal (Islam juga memiliki pandangan yang sama)

Di Kuba, telah diputuskan pada tahun 1918 bahwa perilaku buruk, pemukulan, mencaci maki, berada dalam pemeriksaan polisi, kebiasaan mabuk, kebiasaan berjudi, tidak dapat memenuhi kewajiban, tidak menafkahi, penyakit menular atau kesepakatan bersama, dapat diterima sebagai syarat perceraian atau perpisahan.

Italy menyatakan pada tahun 1919 bahwa wanita harus memilik hak atas hartanya.  Ia dapat memberikannya sebagai sumbangan atau menjualnya apabila ia menghendaki.  (hingga saat ini di Eropa, wanita tidak diakui sebagai pemilik dari hartanya sendiri)

Di Mexico juga, kondisi sebagaimana diatas dianggap cukup sebagai syarat untuk bercerai.  Disamping itu, kesepakatan bersama juga dianggap cukup.  Hukum ini diberlakukan tahun 1917.  Portugal memberlakukan tahun 1915, Norwegia 1909, Swedia 1920, dan Swiss pada tahun 1912 telah memberlakukan undang-undang yang mengijinkan perceraian dan perpisahan. Di Swedia, hukum mengharuskan ayah untuk menunjang kebutuhan hidup anaknya sampai dengan usia delapan belas tahun.

Di Amerika walaupun undang-undang mengharuskan untuk menjaga hak ayah terhadap anaknya, namun pada praktiknya, hakim mulai memperhatikan faktor kelemahan dari pihak ibu, dan sekarang ayah wajib untuk menafkahi anaknya yang tinggal dengan ibunya.  Tentu saja terdapat banyak  kekurangan dalam hukum mereka.  Walaupun hak laki-laki dijaga, namun wanita juga diijinkan untuk memiliki hak terhadap hartanya.  Pada saat bersamaan, di banyak negara bagian, diatur apabila suami mengalami cacat tetap, maka istri harus menunjang kebutuhan hidup suami.

Wanita sekarang memiliki hak untuk memilih, dan jalan telah terbuka dimana mereka dapat memberikan suara terhadap kepentingan nasional.  Namun demikian, semua ini terjadi 1300 tahun setelah Rasulullah Saw. menyebarkan ajarannya.  Banyak hal yang masih menunggu untuk terjadi.  Di beberapa negara, wanita masih tetap tidak memiliki bagian dari warisan orang tua atau suaminya.  Demikian juga dalam beberapa masalah lainnya, Islam terus memberikan pedoman kepada seluruh dunia, walaupun dunia belum mengakui hal tersebut.  Dalam waktu yang tidak lama lagi, bagaimanapun juga, dunia akan menerima tuntunan dari Rasulullah saw mengenai hal ini,  sebagaimana juga mengenai hal lainnya, hal mana Rasulullah telah memulainya atas nama kebebasan bagi wanita akan segera membuahkan hasil.

Terjemah: Damayanti Natalia
Sumber: http://www.alislam.org/library/books/Muhammad-the-liberator-of-women.html
Wednesday, 12 June 2013

Perjuangan Membangun Islam oleh Ahmadiyah


Oleh: Ahmad Nata, Tasikmalaya

Yang dimaksud dengan kemenangan Islam ini ialah menaklukkan hati. Yaitu menaklukkan dan meyakinkan setiap orang agar ia sadar bahwa ia mempunyai Khaliq Sang Pencipta, yang telah menciptakan orang tersebut supaya menyembah Dia Sang Pencipta.

Gonjang-ganjing Jemaah Ahmadiyah Indonesia sedang mencapai puncaknya akhir-akhir ini; berbarengan dengan usia organisasi damai ini yang sedang mencapai 105 tahun, juga bertepatan dengan 105 tahun Kebangkitan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jemaah Ahmadiyah berada hampir di 200 negara di dunia, termasuk sudah 88 tahun mereka berada di Indonesia. Di Bulan Mei pada tahun ini, jemaah Ahmadiyah di seluruh dunia mensyukuri 100 (27 Mei 1908 – 27 Mei 2013) tahun usia berdirinya Khilafat Akhir Zaman yang di emban oleh komunitas paling sabar ini. Didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Al-Masih Mau'ud-Imam Mahdi-Isa Al-Masih yang di janjikan, dinubuatkan oleh Nabi/Rasul yang paling mulia seantero dunia Nabi Besar Muhammad Rosulullah SAW di 1400 tahun silam.

Di tanggal 26 Mei 1908 Hazrat Mirza Ghulam Ahmad wafat, lalu sehari kemudian, 27 Mei 1908 di teruskan oleh Khalifah ke satu Hazrat Hakim Nuruddin, lalu kedua, ketiga, keempat dan sekarang komunitas kerohanian ini di pimpin oleh Khalifah kelima Hazrat Masroor Ahmad. Komunikasi searah di lakukan oleh pemimpinnya melalui saluran televisi (MTA- Muslim Televisi Ahmadiyah) yang dapat di terima dengan jernih melalui teknologi murah antena parabola di seluruh permukaan bumi, tidak tanggung-tanggung 24 jam penuh tanpa iklan, mereka memancarkan siaran dengan menyewa 7 (tujuh) satelit di luar angkasa sana, siapapun dapat melihat perkembangan komunitas ini yang benar-benar memperlihatkan organisasi Islam yang sejuk, damai dan indah.

Di seluruh dunia komunitas Ahmadiyah mencapai kurang lebih 200 juta orang; hampir sama dengan penduduk Indonesia. Negara yang paling banyak pengikut ini ada di daerah asal  Bilal ra.  yaitu di belahan benua Afrika, kemudian di benua Eropa, di antaranya negara Perancis, Inggris, Belanda, Italia, German; di benua Eropa ini orang-orang berbondong-bondong mulai melirik Islam yang Rahmatan lil alamin, di benua Amerika, juga kawasan Arab tidak ketinggalan, lalu di benua Asia yang paling banyak berada di India sendiri, kemudian Pakistan dan di Indonesia ada sekira 500 ribu.

Dakwah Ahmadiyah di seluruh dunia adalah menyampaikan misi yang disyariatkan kepada Yang Mulia Nabi Besar Muhammad Rosulullah SAW, yaitu mencapai Kemenangan Islam di Akhir Zaman ini, lalu bagaimana Kemenangan Islam yang di syiarkan oleh Ahmadiyah itu? Syiar Kemenangan Islam itu bukanlah memenangkan dan merebut sebuah bangunan mesjid, sebidang tanah atau harta benda. Kemenangan ini bukan melalui sebuah pertempuran yang dimenangkan di laut, udara atau daratan. Kemenangan ini bukan melalui sebuah peperangan diatas hamparan gurun Mesopotamia atau pegunungan Afghanistan. Kemenangan ini bukan kemenangan melawan suatu kelompok tertentu. Bukan, sama sekali bukan! Yang dimaksud dengan kemenangan Islam ini ialah menaklukkan hati. Yaitu menaklukkan dan meyakinkan setiap orang agar ia sadar bahwa ia mempunyai Khaliq Sang Pencipta, yang telah menciptakan orang tersebut supaya menyembah Dia Sang Pencipta.

Kemenangan ini ialah untuk melatih seseorang agar belajar tidak mementingkan diri sendiri, agar belajar bermurah hati dan berbudi luhur, dan melatih seseorang dengan cara-cara penuh dengan sifat maaf, penolong dan kasih sayang. Bagi Jemaah Ahmadiyah adalah suatu keberhasilan atau prestasi jika seseorang telah belajar berkorban demi kepentingan orang lain (donor darah, donor mata, dll), apabila seseorang telah merasa simpati kepada orang miskin, kepada orang yang tidak mampu dan kepada orang sakit, apabila seseorang telah belajar berkorban dan menolong orang lain siapapun di dunia ini. Apabila ia mempunyai hasrat, ia hanya berhasrat untuk memohon pengampunan dari Tuhannya. Inilah yang dimaksud dengan kemenangan Islam.

Jemaah Ahmadiyah melakukan Jihad yang membawa pesan-pesan perdamaian. Jihad atau peperangan mereka dilancarkan untuk kebaikan generasi yang akan datang. Peperangan mereka dilancarkan untuk melawan ketamakkan dan sifat mementingkan diri sendiri. Peperangan mereka dilancarkan untuk melawan segala bentuk kekejaman, terorisme dan kebodohan. Peperangan mereka dilancarkan untuk melawan kemiskinan. Peperangan mereka semata-mata dilancarkan melawan philosophy perang itu sendiri, perang melawan hawa nafsu sendiri, dan peperangan ini dilancarkan untuk mencapai keunggulan perdamaian.
Jadi, prinsip Ahmadiyah, adalah kemenangan Islam saat ini hanya akan dapat di capai bila di barengi kekuatan doa yang dapat menaklukkan hati manusia. Inilah senjata Ahmadiyah yang tidak akan pernah dapat ditangkis. Jihad mereka ialah satu-satunya jihad untuk menyebarkan pesan kecintaan dan kasih sayang, untuk menciptakan sebuah revolusi rohani sebagaimana yang di ajarkan dan dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW dan para sahabat beliau, melalui contoh-contoh teladan mereka. Mereka telah menjadi contoh hidup bagi ajaran Islam yang indah dan sangat menarik. Jika Islam berarti damai, dan jika Islam membawa pesan kecintaan bagi segenap umat manusia, maka Islam akan mampu memperlihatkan phenomena perdamaian dan kecintaan bagi seluruh dunia.

Siapa tak kenal dengan Sir Muhammad Zafrulah khan? Seorang pejabat Pakistan, mantan Menteri Luar Negeri, Ketua Majlis Umum PBB, Ketua Mahkamah International yang dikenal oleh warga dunia, beliau adalah seorang Ahmadi. Suatu kali seseorang bertanya kepada Chaudhry Muhammad Zafrullah Khan:

"Chaudhry Sahib, Anda telah mendapatkan kesuksesan dalam hidup Anda dan mendapat begitu banyak Karunia dari Allah Ta'ala dalam hidup Anda. Dapatkah Anda mengatakan kepada saya, apa rahasia dibalik semua itu?". Tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang beliau langsung memberikan jawaban, "Sebab selama hidup saya, saya taat kepada Khalifah."

Lalu siapa juga tak kenal, Prof DR. Abdus Salam, ahli fisika, orang Islam pertama di dunia yang meraih hadiah bergengsi peraih Nobel, beliau pun penganut Ahmadiyah yang mukhlis. Di Indonesia siapa tak kenal Olich Solichin juara tim badminton piala Thomas, beliau dari Tasikmalaya, latihannya di sebuah Gedung Balai pertemuan di perempatan Nagarawangi. Lalu Arif Rahman Hakim yang di kenal sebagai Pahlawan Ampera, dll, beliau-beliau ini orang Ahmadi.

Berkali-kali komunitas rohaniah Ahmadiyah menerangkan bahwa, kitab suci komunitas Ahmadiyah bukanlah Tadzkirah, tetapi Al-Quranul Karim 30 juz, 114 surat, 6.666 ayat, itulah kitab pegangan yang paling utama mereka. Coba lihat Al-Quran yang di cetak oleh DEPAG , yang biasa di bagikan ketika umat Islam Indonesia pergi naik Haji, bacalah bagian bab "Terjemahan ke dalam bahasa Barat", di situ tertera tulisan "menggabungkan diri dengan Ahmadiyah yang salah satu kegiatannya menterjemahkan Al-Quran,…". Terjemahan Al Quran Suci dan tafsirnya di sebarkan ke berbagai bahasa di dunia ketika dikomandoi oleh Khalifatul Masih Ahmadiyah kedua yaitu Hazrat Bashirudin Mahmud Ahmad.

Prof. Dr. Hamka, tidak asing lagi bagi masyarakat kita, seorang alim terkemuka, berpengaruh dan termasuk orang yang tidak setuju kepada Ahmadiyah. Namun demikian Prof. Dr. Hamka berkata dan menulis tentang Jasa Ahmadiyah seperti berikut:

"Adapun Kaum Ahmadi (Ahmadiyah) dan Usahanya Menyebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka Menafsirkan Qur'an ke dalam bahasa-bahasanya yang hidup di Eropa. Padahal di zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur'an. Penafsiran Qur'an dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang Menginginkan Kebangkitan Ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam .." [Pelajaran Agama Islam, hal. 199, cetakan pertama 1956, Penerbit Bulan Bintang].

Dr. H Abdul Karim Amarullah alias Haji Rasul, ayahanda Dr. Hamka, salah satu ulama terkemuka di negara kita pada zamannya dan tidak sepaham dengan Mubaligh Ahmadiyah di Sumatera Barat tahun 1925/1926. Sekalipun tidak setuju Ahmadiyah namun beliau TIDAK SEGAN MEMUJI DAN MENGAKUI JASA DAN UPAYA Ahmadiyah meng-Islamkan kaum Keristen.

Beliau mengatakan dalam sebuah bukunya [Al-Qaulush-Shahih hal. 149, Bukit Tinggi, 1926]:

"Di atas nama Islam dan kaum Muslimin sedunia kita memuji sungguh kepada pergerakan Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum Nasrani (Keristen) masuk agama Islam di tanah Hindustan dan lain- lain tempat..". Dalam Almanak Muhammadiyah hal. 42 tahun 1347 Hijriah; "Mubaligh-mubaligh Ahmadiyah telah bermukim di Barat, sangat keras mengembangkan agama Islam dan meratakan pengajarannya, begitullah berangsur-angsur terus menerus yang datang pada kemudiannya, hingga di antara mubaligh itu ada yang menuju pusatnya kaum Keristen di tanah Roma, Italia dan hendak di-Islamkannya …".

H. Agus Salim dan H.O.S Cokroaminoto "Kongres Serikat Islam 26-29 januari 1928 di Jogjakarta memperingati hari S.I. 15 tahun. Sebagai dimaksudkan dahulu itu, diadakan juga Majelis Ulama itu, tetapi Muhammadiyah tidak mau turut duduk di Majelis itu sebenarnya Majelis S.I. adanya, jadi di luar organisasi ini, tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Di Kongres itu dibicarakan juga tafsir Qur'an yang sedang dikerjakan oleh Cokroaminoto. Dari penerbitan-penerbitan pertama, ternyatalah bahwa tafsir itu didasarkan atas Tafsir Ahmadiyah. Lantaran ini timbullah dalam kalangan sendiri perlawanan yang keras. Salim menerangkan, bahwa dari segala jenis tafsir Qur'an, yaitu dari kaum kuno, kaum Muktazilah, ahli sufi dan golongan modern (di antaranya Ahmadiyah, Wahabi baru, dan kaum Theosofi), Tafsir Ahmadiyah-lah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar". [Mr. A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakkan-pergerakan Rakyat Indonesia, 1946, cetakan kelima, halaman 47, Penerbit Pustaka Rakyat]

Prof. Dr. Hasbullah Bakry; Seorang penulis terkenal, Ulama dan Guru Besar Hukum Islam dan Perbandingan Agama mengatakan:
"Akhirulkalam kami berpendapat Ghulam Ahmad adalah ulama besar, seperti ulama besar lainnya sedangkan pengikutnya adalah umat Islam tanpa perlu diragukan Islamnya, dan salah besar mereka yang menganggap kafir. Semoga Allah SWT. menguatkan selanjutnya pendapat kami ini dengan menggerakkan para ulama lainnya dalam membelanya, amin".[Pedoman Islam di Indonesia, hal. 441, cetakan ke lima 1990, Penerbit Universitas Indonesia, Press).

Ir. Soekarno (Presiden RI Pertama) menulis:
"Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana, ia menyebarkan banyak perpustakaannya ke mana-mana. sampai di Eropa dan Amerika orang baca ia punya buku- buku, sampai di sana ia sebarkan punya propagandis-propagandis. Corak ia punya Sistem adalah memprogandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan mempertahankan Islam itu terhadap serangan-serangan dunia Nasrani; mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritikannya dunia Nasrani, ya ... Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam mempropagandakan Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya." [Di bawah Bendera Revolusi hal. 388, 398, cetakan keempat, jilid pertama]

Dan sekarang di tahun 2008, Televisi MTA menayangkan 3 orang negro dari belahan benua Afrika mengumandangkan dengan penuh kedamaian " La Ilaha Ilallah, Muhamadun Rasulullah" " La Ilaha Ilallah, Muhamadun Rasulullah" " La Ilaha Ilallah, Muhamadun Rasulullah"

Di seluruh belahan dunia, di manapun orang-orang Ahmadiyah berada berkeyakinan dengan kuat , Tiada Tuhan selain Allah, dan yang tak dapat di tawar lagi Muhammad adalah RosulNya.

Note:
Tulisan ini ditulis oleh Ahmad Nata pada tahun 2008
sehingga ada data-data, khususnya tanggal yang kami ubah.